Info Kuliner mengenai berbagai macam jajanan khas Purwokerto, dari makanan berat sampai makanan ringan, semua ada disini [...]
1 kg tepung sagu
1 genggam merang/batang padi
2,5 lt air
1 lt santan
1 – 1 1/2 sdt garam
es batu secukupnya
SIRUP GULA JAWA:
500 gr gula jawa
250 gr gula pasir
500 ml air
2 daun pandan
CARA MEMBUAT:
- Sirup gula jawa: rebus semua bahan hingga mendidih dan gula larut. Saring. Sisihkan
- Santan: Campurkan santan dengan garam. Sisihkan.
- Larutkan tepung sagu dengan 1.5 lt air hingga rata. Bila perlu saring dengan kain. Sisihkan.
- Bakar merang hingga jadi abu, rendam dengan 1 lt air. Aduk hingga berwarna hitam. Saring dengan kain.
- Rebus larutan merang hingga mendekati mendidih. Sebelum mendidih masukkan adonan sagu. Aduk-aduk hingga jadi seperti bubur. Aduk konstan hingga matang.
- Siapkan baskom berisi air dingin, dan saringan/cetakan dawet. Panas-panas ambil bubur merang yang telah matang secukupnya. Taruh di cetakan, tekan dengan papan yang lebih kecil ukurannya dari diameter saringan. Biarkan bubur merang lolos lewat lubang-lubang kecil saringan tepat di air dingin. Lakukan hingga semua ‘tersaring’. Tiriskan.
- Penyajian: Ambil gelas saji, beri dawet hitam, es batu, tuangi santan dan sirup gula jawa. Sajikan.
Emping Mlinjo, terbuat dari mlinjo yang digoreng pasir, dikupas kulit kerasnya, ditumbuk, ditipiskan, dijemur, diberi bumbu garam dan bawang, digoreng minyak sawit, gurih. Cocok untuk snack, hidangan di rumah, oleh-oleh, bertamu. Ini memang hidangan favorit, apalagi hari raya.
Sentra Emping Melinjo ada di Kecamatan Grabag, (Ngombol juga ada ya?), di desa saya , Pasaranom. Di desa saya, kegiatan membuat emping menjadi mata pencaharian beberapa rumah tangga dan merupakan kegiatan turun temurun. Termasuk ibu saya dulu. Dulu kalau pas hari libur, harus membantu ibu menumbuk emping, dari pukul 6 sampai 12 siang. Capai juga. Hasilnya memang lumayan, bahkan sering lebihg banyak dari hasil sawah. Kebetulan di pekarangan rumahku banya sekali pohon mlinjo, kalau lagi panen besar bisa mencapai 4 kuintal. Kalau dibuat emping sendiri, lebih menghasilkan.
Apa kelebihan emping Mlinjo Grabag? Tanpa campuran bahan lain, dari mlinjo yang benar-benar tua, satu emping satu mlinjo. Rasanya gurih.
Memang harga meping milnjo relatif mahal, per kilo bisa mencapai 20.000, makanya ini biasanya dihidangkan khusus, untuk tamu khusus, pada acara khusus.
Permasalahan produksi emping mlinjo adalah harga yang tidak bisa stabil, menyesuaikan harga mlinjo mentah. Kalau linjo sedang panen, harga murah, harga emping ikut murah, kalau melinjo jarang, mahal, harga meping juga ikutan mahal. Lalu pemasaran juga tradisional, di bawa ke pasar, atau menungu pembeli di rumah kalau sedang sepi diambil oleh pengumpul.
Selain pengerjaan masih bersifat tradisonal, apa adanya, dan hanya untuk kegiatan saja. Pekerjaan dilakukan oleh anggota keluarga, dari ibu, bapak satau anak. Belum ada upaya mengembangkan menjadi industri rumah tangga skala besar.
Dimana mendapatkan emping? Yang saya tahu sih, paling banyak, karena dekat tempat saya adalah di Pasar Kecamatan Grabag. Di situ ada toko pengumpul. Lalu di Pasar Kutoarjo juga ada. Kalau anda main ke Purworjeo, snack ini boleh dicoba.
Anda punya referensi oleh-oleh khas purwoejo yang lain? Silakan berkomentar, mari kita promosikan oleh-oleh khas Purworejo.
Terletak di komplek tugumuda, dahulu merupakan gedung megah berbaya art deco, yang digunakan Belanda sebagai kantor pusat kereta api ( trem ), atau lebih dikenal dengan Nederlandsch Indische Spoorweg Maschaappij ( NIS ). Bangunan karya Arsitek Belanda Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag menurut catatan sejarah dibangun tahun 1903, kemudian diresmikan pada tanggal 1 juli 1907.Masyarakat Semarang lebih mengenal gedung ini dengan sebutan Gedung LaswangSewu, mengingat gedung ini memiliki jumlah pintu dalam jumlah banyak, yangt dalam arti kiasan banyak berarti jumlahnya seribu atau lebih , yang dalam bahasa jawa LawangSewu.Lawang berarti pintu dan Sewu berarti seribu.
Hari minggu jalan-jalan ma pacar ke Purwokerto niatnya mo nyari kado buat tetangga yang lagi nikahan eh… malah toko yang dituju pada tutup semua. Yah akhirnya jalan-jalan deh di Moro ngabisin waktu main di Kids Fun berdua. Ga kerasa saking asyiknya main, tau-tau dah sore. Pas bgitu keluar dari parkiran Moro perut langsung keroncongan, karena waktu dah sore daripada muter-muter nyari makan di Purwokerto ni otak langsung kpikikiran makan mie ayam. Sekalian pulang makan mie ayam aja di Padamara. Padamara itu jalan alternatif dari Purwokerto ke Purbalingga atau arah sebaliknya. Namanya mie ayam Pangsit Padamara letaknya tepat disebelah Polsek Padamara Kabupaten Purbalingga. Tempatnya Gede terbuat dari Seng mirip seperti Selipan Padi, so klo siang hari pas cuaca lagi terik terasa panas banget di ruangan itu, apalagi klo pas lagi ramenya pengunjung keringat tambah bercucuran tuh.
Mie Ayam pangsit ini tersaji dengan kuah yang terpisah, kuahnya di mangkok kecil yang didalemnya ada baksonya 3 biji. Trus di atas mienya juga ada krupuk pangsitnya 5 biji dengan ukuran kira-kira 2x4cm, trus didalem mie nya ada 2 biji pangsit rebusnya, yang bikin asyik lagi didalem pangsit rebusnya ada potongan daging ayamnya loh. Untuk rasa mie nya terasa gurih bangettt, pokoknya dijamin cap cus deh. Klo aku biasanya cara makannya, masukin kuahnya sedikit demi-sedikit jadi tersa deh gurihnya. O ya untuk harganya satu porsi cukup dengan 6.500 rupiah aja.Trus klo harga minumannya standar aja sekitar 2 rb-3 rb rupiah.Yuhuuuuuu selamat mencoba!!!
Soto Bangkong
Bahan:400 g (½ ekor) ayam kampøng
1.750 ml air, untuk merebus2 cm lengkuas, memarkan2 cm jahe, memarkan2 batang serai, memarkan2 lembar daun salam2 sdm minyak goreng1-2 sdm kecap manis (saya pakai kecapnya untuk pelengkap)1 sdm jeruk nipis50 g soun kering4 sdm taoge pendek2 batang daun bawang, iris tipis2 batang seledri, iris tipis4 sdm bawang merah goreng1 sdm bawang putih goreng
Bumbu Halus:16 butir bawang merah4 siung bawang putih4 cm kunyit1½ sdt merica3 sdt ketumbar2 sdt garam
Cara Membuat:
Rebus ayam bersama air, lengkuas, jahe, serai, dan daun salam hingga mendidih. Kecilkan apinya, tutup panci, rebus terus hingga ayam lunak dan kuahnya agak berminyak, angkat, tiriskan ayamnya.
Panaskan minyak goreng dalam wajan, tumis bumbu halus sampai harum, angkat, masukkan bumbu tumis ke dalam kaldu.
Tambahkan air jeruk nipis & kecap. Jerangkan panci kaldu di atas api, masak lagi hingga kaldunya tinggal ± 1.200 ml. Bila kurang, tambahkan air panas secukupnya.
seduh soun dan taoge dengan air panas secara terpisah. Setelah soun dan taoge agak layu, tiriskan.
Lepaskan daging ayam dari tulangnya, iris atau suwir-suwir dagingnya, sisihkan.
penyajian: siapkan mangkuk saji, taruh berturut-turut ayam suwir, soun, dan taoge. Siramkan kaldu panas, taburi daun bawang, seledri, bawang merah, dan bawang putih goreng. Sajikan panas bersama sambal cabai dan pelengkap lainnya*)
Akhir-akhir ini kita “diramaikan” dengan sumpah yang diucapkan oleh para petinggi Negara untuk meyakinkan bahwa apa yang dituduhkan pada jbs itu tidak betul. Konsekwensi atas akibat yang ditimbulkan oleh sumpah tsb. sepenuhnya menjadi tanggung jawab yang bersangkutan. Sumpah dikeluarkan secara sepihak . Namun apa yang ingin saya kemukakan berikut ini adalah jenis sumpah lain yang nampaknya telah menjadi bagian sebuah legenda sebagai sumpah “Banyu Mendiro”.
Di desa Mendiro, kecamatan Ngombol, Pwr. ada sebuah sumur kuno yang terletak disebelah “Sarean Eyang Mendiro” yang dipercaya sebagai cikal bakal desa Mendiro. Sumur ini berair jernih dan tidak pernah kering dalam segala musim. Dimusim kemarau, dari sumur ini para warga sekitar menggantungkan kebutuhan air khususnya untuk keperluan minum. Sebagai sumber air bagi warga sekitar, air ini adalah “biasa-biasa” saja. Namun air ini seketika akan menjadi “banyu mandi” bila digunakan sebagai “sumpah”, itulah kepercayaan dan legendanya.
Sejak saya kecil tahun ‘30-an sampai saya dengar akhir-akhir ini kepercayaan itu masih ada. Umumnya sumpah itu merupakan “tantangan” oleh seseorang yang dituduh melakukan sesuatu oleh pihak lain, biasanya dalam kasus pencurian. Si tertuduh menantang di penuduh untuk sumpah dengan bersama-sama minum Banyu Mendiro. Dengan begitu resikonya akan sama. Pihak yang “salah” akan menerima akibatnya, yang umum adalah perutnya akan “mlembung” diikuti oleh sakit-sakitan dan kematian. Karena resikonya yang begitu dahsyat itu maka sumpah ini jarang yang berani melakukan. Biasanya bila pihak tertuduh sudah mengancam dengan sumpah ini, pihak lain akan pikir-pikir karena kalau keliru sangat fatal akibatnya. Setahu saya baru satu kali saya menyaksikan terjadinya sumpah itu, sewaktu saya kecil dan mengenai akibatnya saya tidak mengikuti.
Kepecayaan ini bisa dianggap sebagai takhayul, tetapi bisa juga dinilai positip, sebagai cara masyarakat desa untuk menyelesaikan “konflik” antar warga dengan kedudukan/status yang sederajat dengan menerima resiko yang sama. Dilihat dari sudut pandang ini barangkali sumpah Banyu Mendiro itu ada fungsinya juga.
Slamet Wijadi
Pegunungan Menoreh membentang dari kabupaten Kulon Progo D.I. Yogyakarta hingga kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Proses evolusi alam selama berjuta-juta tahun itu telah membentuk permukaan pegunungan purba itu sedemikian rupa sehingga menghadirkan keajaiban panorama alam. Pada beberapa puncak-puncak pegunungan tersebut terdapat sejumlah goa alam yang sangat menawan dan salah satunya adalah goa Seplawan di Purworejo. Sedangkan lainnya ada di Kulon Progo yaitu goa Kiskendo juga ada goa Silumbu, goa Silawang dan goa Gong. Ketiga goa itu semuannya terdapat di daerah Purworejo.
Goa Seplawan adalah satu-satunya goa di Purworejo yang sudah dijadikan obyek wisata. Goa ini tepatnya berada di desa Donorejo,kecamatan Kaligesing sekitar 40 kilometer ke timur dari pusat kota.
Goa Seplawan itu merupakan satu situs yang sangat bernilai tinggi. Sebab, goa yang ditemukan pada 15 Agustus 1979 itu di salah satu sudut goa ditemukan sebuah arca emas 22 karat setinggi 9 cm dengan berat 1,5 kg. Arca itu berupa patung sepasang pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan. Para ahli arkeolog meyakini bahwa patung itu adalah Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Arca itu merupakan peninggalan pada zaman Hindu Siwa. Kini arca tersebut disimpan di Museum Nasional. Sebagai gantinya , Pemerintah membangun replika arca didepan mulut goa, replika itu ukurannya lebih besar dari yang sebenarnya sehingga menyerupai monumen.
Selain memiliki keistimewaan sebagai situs pra sejarah ada keistimewaan lainnya yaitu keindahan goa Seplawan itu sendiri. Goa itu memiliki ornamen-ornamen yang sangat indah dan mengagumkan seperti adanya stalaktit dan stalakmit dengan ukuran beraneka ragam. Ornamen lainnya pun tak kalah menariknya seperti Flow stone, helektit, soda straw, gowerdam dan lain-lain.
Goa Seplawan mempunyai panjang sekitar 700 Meter sedangkan cabang-cabang goa sekitar 150-300 meter. Jalur yang khusus untuk para pengunjung sudah ada penerangan lampu sedangkan untuk cabang-cabang goa tidak dipasang lampu karena kondisinya yang berlumpur. Sehingga ada yang memberi nama cabang goa itu dengan istilah “istana lumpur” karena saking banyaknya lumpur.
Lokasi obyek wisata Goa Seplawan sudah dilengkapi dengan fasilitas sarana dan prasana seperti kamar mandi/WC, Mushola kecil yang sederhana, Gashebo, Gardu Pandang dan juga ada taman-taman bunga yang indah. Pemandangan disekitar goa seplawan sangat indah selain itu udaranya juga sejuk karena kawasan ini berada di ketinggian sekitar 800 mdpl. Melalui gardu pandang pengunjung bisa melihat pantai selatan, kota Kulon Krogo, serta Waduk Sermo. Bahkan jika naik ke salah satu bukit di kawasan goa itu, pengunjung bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing dan Sindoro dan juga Gunung Slamet. Namun, gunung-gunung itu hanya bisa dilihat pada pagi hari. Maka, banyak para pengunjung yang camping di Seplawan sehingga pada pagi harinya bisa melihat keindahan alam dari kawasan Seplawan itu.
Saat ini segmen pengunjung masih didominasi dari kalangan muda dan sedikit dari orang tua. Mereka berasal dari daerah Purworejo dan sekitarnya. Pengunjung Goa Seplawan masih sangat sedikit. Hal ini karena lokasinya yang jauh dari pusat kota dan kawasan Seplawan itu masih terlalu sederhana. Dan ini menjadi pekerjaan rumah pemda untuk mengembangkan obyek wisata mengingat Goa Seplawan memiliki ciri khas tersendiri baik dari segi sejarah dan keindahan alamnya. Sehingga nantinya dengan pengembangan obyek Goa Seplawan itu akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah ( PAD ).
Geblek yang masih mentah memiliki keistimewaan yaitu dapat bertahan selama 4 hari tanpa pengawet. Apabila sudah melebihi 4 hari, maka geblek yang sejatinya siap digoreng ini akan mengeras dan tidak enak, bahkan bila digoreng pun rasanya sudah tidak gurih lagi. Sementara geblek yang telah digoreng atau matang, umumnya hanya mampu bertahan selama 1 hari. Jika lebih dari satu jam, geblek biasanya akan mengeras.






